kita duduk di sini, di atas gundukan pasir gurun
saling berebut bercerita seakan kita tidak bersama
setelah beribu tahun..
perlahan angin gurun bertiup, membelai..
makin lama makin menderu, menyibak rambut, memerihkan mata, mengaburkan pandangan..
angin gurun menerpamu..
tak kudengar lagi suaramu,
tak kulihat lagi senyum dan binar matamu..
angin gurun menerbangkanmu, hingga partikel terkecilmu..
susah payah wujudmu kubentuk dari tumpukan pasir,
namun angin gurun merebutmu dariku..
tak perduli betapa kuat tangisku..
tak perduli betapa keras teriakkanku..
tak perduli betapa dalam aku memohon..
angin gurun tetap menerbangkanmu,
membawamu pergi menjauh,
mengubah wujudmu menjadi butiran pasir gurun lagi..
aku tetap duduk di sini, berharap ada angin gurun lain
yang akan membawamu kembali..
bukan sebagai pangeran pasir yang kuciptakan dari imajinasi..
tapi dengan wujud yang sempurna..dengan jiwa..dengan darah yg mengalir di pembuluhnya..dengan jari-jari yang bisa menghapus air mata..dengan tangan yang bisa mendekapku erat dan dengan
mulut yang bisa bersuara..yang berjanji tak akan pernah meninggalkanku sendiri..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar